Jangan anggap Remeh Emak - emak, Loly Candy’s grup P3d0fili4 Pun Tamat di Tangannya.

Awalnya Michelle Dian Lestari Mengira unggahan Loly Candy’s 18+ grup pedofilia sebagai isapan jempol belaka. Informasi tersebut di unggah Risrona Talenta Simorangkir melalui grup Facebook bernama Fun Fun Centilicious (FFC).




Saat itu, Jumat, 3 Maret 2017, Dian memang sedang malas mengikuti perbincangan di grup FFC. Kondisi kesehatannya menurun dan ingin beristirahat. Paling-paling, menurutnya, ibu-ibu yang menjadi anggota FFC itu hanya bereaksi berlebihan.

“Saya pikir paling cuma biasa. Namanya juga ibu-ibu, pasti isinya cuma panik-panikan melulu, kan. Ya, sudah, masa bodoh amat,” ucapnya ketika ditemui di kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Tangerang Selatan, Banten, Kamis, 29 Maret lalu.

Namun jangan menyepelekan grup FFC ini. Grup yang terbentuk beberapa bulan lalu ini diikuti oleh 346 akun Facebook milik ibu-ibu dari berbagai kota di Indonesia. Mereka bercakap aneka masalah, seperti soal masak-memasak ataupun soal kosmetik.

Tak hanya berbincang, anggota FFC gemar menyelisik hal-hal yang dianggap menyimpang di media sosial. Mereka biasa mengganggu para pemain money game, yang menjual produk yang teregister sebagai kosmetik tapi dijual sebagai obat-obatan. Dari pemilik akun hingga distributor kosmetik mereka “kerjai”.

Mereka sharing kisah nyata mereka ‘net-not’ (mendekati) anak-anak itu, mulai tetangga, keponakan, sampai saudara sendiri. Ada yang posting foto korban yang sudah mereka jamah. Juga sharing tip dan trik supaya lancar menggaet korban, dan lainnya.”

Resti, salah seorang anggota grup FFC
Nah, kali ini mereka menemukan sesuatu yang mencurigakan di Facebook tentang pedofilia. Risrona, yang tinggal di Medan, Sumatera Utara, langsung memainkan jemarinya untuk menelusuri Loly Candy’s 18+ di Facebook. Hasilnya mencengangkan.

Grup tersebut merupakan wadah pedofil bertukar informasi dan koleksi aksi kejahatannya. Mereka memasang foto anak-anak korban hasil kejahatan para anggotanya. Selain itu, obrolan tentang cara mendekati korban menjadi topik hangat.

Risrona pun mencuplik obrolan Loly Candy’s 18+ dan membaginya ke grup FFC pada Sabtu, 4 Maret lalu. Seketika, gemparlah grup FFC yang anggotanya jarang kopi darat tersebut.

“Ternyata isinya bikin dia (Risrona) panik. Difoto satu-satu, terus diunggah ke listing grup kami yang pertama. Kami kan akhirnya panik juga. Kok begini banget,” kata Dian.

Risrona sendiri mengaku tak menduga keberadaan Loly Candy’s 18+. Awalnya ia mendapatkan informasi grup tersebut dari salah satu artikel berjudul “Bahaya Loly Candy’s 18+ Sarang Pedofil” di situs seword.com.







Artikel itu tak mendapat tanggapan dari pembaca. Risrona mencoba bertanya. Namun, satu jam setelah pertanyaannya meluncur, artikel tersebut justru menghilang. Risrona pun membagi keresahannya di grup FFC.

“Anehnya, artikel itu ditarik sejam setelah saya lihat. Saya juga sempat tanya, tidak ada tanggapan,” ujarnya melalui telepon kepada Kami.

Penelusuran tentang Loly Candy’s 18+ tak hanya dilakukan Risrona. Resti (bukan nama sebenarnya), salah seorang anggota grup FFC, bahkan menjajal menjadi member Loly Candy’s 18+. Ia masuk menjadi anggota grup itu dengan akun Facebook palsu.

Betapa terkejutnya Resti melihat banyak foto anak-anak di bawah umur dengan pose telanjang dan disensor bagian vitalnya. Beberapa video anak di bawah umur juga dapat diunduh dari grup tersebut.

“Mereka sharing kisah nyata mereka ‘net-not’ (mendekati) anak-anak itu, mulai tetangga, keponakan, sampai saudara sendiri. Ada yang posting foto korban yang sudah mereka jamah. Juga sharing tip dan trik supaya lancar menggaet korban, dan lainnya,” ungkap Resti.


Beberapa anggota Loly Candy’s 18+ cukup aktif mengunggah foto dan cerita. Resti menyebutkan akun bernama Joseph Marsell Djoewono mengunggah cerita dan foto korbannya ketika melakukan pelecehan seks di warnet. Pemilik akun tersebut bekerja di sebuah perusahaan di Bekasi.

Namun grup ini memiliki beberapa lapis pengamanan. Mereka membuat grup rahasia di aplikasi percakapan WhatsApp apabila sudah mengangkat moderator. Resti dkk tak masuk sampai ke sana dalam mengungkap grup pedofil tersebut.

“Kalau grup WhatsApp ada aturan sendiri, tapi aku tidak masuk ke sana. Soalnya, harus kirim video koleksi sendiri,” tutur Resti.

Kendati begitu, para ibu-ibu FFC tak berhenti mencari siapa otak grup Loly Candy’s 18+. Mereka akhirnya menemukan akun bernama Wawan sebagai pembuat sekaligus pengelola akun tersebut. Wawan adalah orang yang mengontrol lalu lintas keanggotaan dalam forum itu.

Dian menyebutkan Wawan memiliki empat akun Facebook, tiga dengan nama Wawan dan satu dengan nama Snorlax. Ia mengelola akun ini bersama tiga rekannya dengan nama akun Illu Inaya alias Alicexandria, akun T-Day, serta akun Siha Dwiti. “Dari tiga akun bernama Wawan itu, satu akun asli,” kata Dian.

Informasi yang mereka dapatkan, ada empat macam akun grup Loly Candy’s 18+. Salah satunya adalah Loly Candy. Semua grup itu memiliki tingkatan keaktifan anggotanya. Semuanya dikelola oleh Wawan.

Parahnya, anggota grup Loly Candy’s 18+ sudah mencapai 7.497 akun. Mereka tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dari negara-negara di Amerika Selatan.

Ibu-ibu yang tergabung dalam FFC bingung menanggapi hasil temuan ini. Jaringan Loly Candy’s 18+ ini sangat meresahkan karena membidik anak-anak. Mereka khawatir jaringan ini akan terus merajalela.


Awalnya mereka sepakat untuk menyebarkan temuan ini. Namun, pertimbangannya, ketika kedok terbuka, semua anggota Loly Candy’s 18+ bakal kabur dan membentuk jaringan baru.

Dian pun memberikan solusi agar melapor ke alamat e-mail aduan konten Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Namun e-mail ke alamat tersebut tak terkirim.

“Saya kan punya teman polisi, Kapolres Depok Kombes Herry Heryawan. Saya laporkan ke dia, lalu dihubungkan ke satgasnya di Polda Metro,” ujarnya.

Pada Minggu, 5 Maret, informasi ibu-ibu itu dipakai polisi sebagai petunjuk untuk menangkap empat pengelola grup Loly Candy’s 18+. Pemilik akun Wawan bernama Moch Bahrul Ulum (25 tahun) ditangkap di Malang, Jawa Timur, dan pemilik akun Illu Inaya, yakni Dede Sobur (27 tahun), ditangkap di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Sedangkan pemilik akun T-Day bernama Dicky Firmasnyah (17 tahun) ditangkap di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, dan pemilik akun Siha Dwiti, yakni Siti Hajar Dwi Widiarti (16 tahun), ditangkap di Tangerang, Banten.


close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==