Menaikkan Golongan Listrik, Menggenjot Jualan PLN




PLN Mengklaim cadangan antara 30-40 persen
Upaya peningkatan golongan pelanggan listrik PLN oleh pemerintah tak terpisahkan dari skenario.
tirto.id - Jusuf Kalla (JK) saat menjadi wakil presiden (Wapres) periode pertama, 2008 lalu sempat "menyentil" seorang menteri yang gedung kementeriannya kedapatan masih terang benderang di malam hari. Saat itu, JK memang sedang gencar mencanangkan gerakan hemat energi, sampai-sampai suhu AC di gedung-gedung pemerintah hanya bisa dihidupkan pada suhu 25 derajat celsius.

Berselang menjahit, gerakan serupa masih menyisakan asa. Pada tanggal 15 Mei 2016, Sudirman Said, saat masih penuh Menteri ESDM kala itu diluncurkan "Gerakan Potong 10 persen". Gerakan nasional ini sebagai upaya pemerintah mensosialisasikan program hemat energi melalui kehidupan sehari-hari seperti hemat konsumsi listrik. Target program ini memang cukup beralasan bila melihat kondisi kelistrikan nasional saat itu. Hingga akhir April 2016, masih ada enam wilayah yang masih defisit pasokan listrik, antara lain Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Papua.


Selain itu, hitung-hitungan di atas kertas, dengan adanya "Gerakan Potong 10 persen" bisa setara dengan hemat pembangunan 3,5 GW listrik yang dihasilkan oleh PLTU. Di tengah krisis listrik di beberapa daerah, konsumsi listrik pada tahun itu cukup tinggi, sepanjang semester I-2016, pertumbuhan penjualan listrik mencapai 7,82 persen dibanding Semester I-2015. Jumlah total pada tahun lalu penjualan listrik tumbuh sampai 6,49 persen.

Namun, Masuk 2017, semua jadi berkebalikan. Penjualan listrik PLN mengalami perlambatan cukup parah. Pada kuartal I-2017 hanya tumbuh 2,4 persen, periode yang sama tahun lalu sempat naik 8,15 persen. Titik terendah kelesuan penjualan pada semester I-2017 yang tercatat 107.410 GWh, atau hanya tumbuh 1,37 persen. Penjualan listrik pernah membaik pada bulan Januari - September 2017 yang mengalami kenaikan sebesar 3,1 persen.

"Naiknya penjualan listrik PLN ini menjadi sinyal positif agar ekonomi terus berkembang dengan baik," kata Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi dan Kerja Sama Kementerian ESDM Dadan Kusdiana.

Sayangnya, angka ini ternyata masih jauh di bawah target dalam revisi soal Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2017-2026, yang berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 1415 K / 20 / MEM / 2017. Pada tahun ini berlaku penjualan listrik bisa tumbuh 7,8 persen dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 5,1 persen. Penurunan atau kenaikan penjualan listrik di indonesia memang sangat erat dengan geliat ekonomi.

Sebagai contoh, pada 2015 saat ini hanya tumbuh 4,7 persen, penjualan listrik cuma tumbuh 2,1 persen, jadi pula yang pada tahun 2009, saat ini hanya menggeliat 4,6 persen, penjualan listrik cukup naik 4,3 persen saja. Lelang tahun sebelumnya, saat ada gencar gerakan hemat listrik, penjualan listrik naik 6,4 persen, di atas dari pertumbuhan ekonomi.

Khusus tahun ini, pemerintah pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 hanya akan mencapai 5,1 persen atau di bawah target dalam APBN-P 2017 sebesar 5,2 persen. Proyeksi ini tentu menjadi catatan bagi pertumbuhan penjualan di tahun ini. Saat bersamaan, pemerintah punya ide soal penyederhanaan golongan pelanggan listrik PLN, yang ujung-ujungnya menyasar para pelanggan non subsidi. Dari para pelanggan non subsidi ini yang bisa dimaksimalkan potensinya. Selain tarif listrik yang sudah keekonomian atau jauh lebih tinggi dari golongan yang disubsidi, pelanggan non subsidi memiliki kemampuan daya beli.
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==